Ada empat tahapan yang harus dilakukan dalam pengembangan kurikulum,
menurut Kurniawan (2009) tahapan-tahapan tersebut ialah sebagai berikut:
1)
Menentukan tujuan
pendidikan.
2)
Menentukan pengalaman
belajar yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
3)
Menentukan organisasi
pengalaman belajar.
4)
Menentukan evaluasi
pembelajaran untuk mengetahui apakah tujuan telah dicapai.
Dalam prosesnya, pengembangan kurikulum secara makro
dengan model ini harus melibatkan berbagai pihak seperti Perguruan Tinggi dan
masnyarakat yang terdiri dari para ahli; bidang studi, kurikulum, pendidikan,
psikologi, dan perkembangan anak dan bidang lainnya yang terkait.
a)
Menentukan
Tujuan
Penetapan tujuan adalah langkah
pertama. Dalam tujuan ini harus menggambarkan arah pendidikan yang akan dituju,
jenis kemampuan apa yang harus dimiliki siswa setelah proses pendidikan.
Rumusan
tujuan kurikulm ini sangat tergantung pada teori dan filsafat pendidikan yang
dianut oleh pengembangannya, berdasarkan berbagai masukan. Dalam pandangan
tyler ada tiga klasifikasi karakteristik tujuan kurikulum yaitu tujuan
kurikulum yang menekankan pada pengusaaan konsep dan teori ilmu pengetahuan (discipline oriented). Tujuan kurikulum
yang menekankan pada pengembangan pribadi atau model humanistic (child centered). Tujuan kurikulum yang
menekankan pada upaya perbaikan kehidupan masyarakat (society centered).
Dengan
merujuk pada tujuan kurikulum diatas, maka sumber-sumber yang dapat dijadikan
rujukan dalam pengembangan kurikulum, menurut Tyler, yaitu pandangan dan
pertimbangan para ahli disiplin ilmu, individu anak (sebagai siswa), dan
kehidupan social kontemporer. Dalam praktik, pemisahan tugas seperti di atas
tidaqk ada. Ketiga hal tersebut menyatu meskipun ada salah satu karakter yang
lebih dominan.
b) Menentukan Pengalaman
Belajar
Pengalaman belajar yaitu aktivitas
siswa dalam beinteraksi dengan lingkungan, dan bagaimana siswa mereaksi
terhadap lingkungan. Pengalaman belajara tidak identic dengan isi pelajaran,
namun secara inhern dalam pengalaman belajar ini sudah mencakup bahan pelajaran
apa yang harus dipelajari siswa.
Ada
beberapa prinsip yang harus dipegang dalam menentukan pengalaman belajar ini
yaitu:
1)
Harus sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai
2)
Setiap pengalaman
belajar harus memuaskan siswa (senang dalam melakukannya dan sesuai dengan
perkembangan siswa).
3)
Setiap rancangan
pengalaman belajar sebaiknya melibatkan siswa.
4)
Satu pengalaman belajar
bias mencapai lebih dari satu tujuan
c)
Mengorganisasi
Pengalaman Belajar
Pengalaman belajar bias dibuat
dalam bentuk matapelajaran atau berupa program. Sedangkan jenis
pengorganisasian pengalaman belajar bias secara vertical atau secara
horizontal. Secara vertical artinya, satu jenis pengalaman belajar dilakukan
dalam berbagai tingkat kelas yang berbeda. Dengan maksud untuk mengulang-ulang
jenis pengalaman belajar tersebut. Sedangkan pengorganisasian secara horizontal
yaitu menghubungkan pengalaman belajar dalam satu bidang kajian (mata
pelajaran) dengan pengelaman belajar bidang kajian lain yang masi dalam satu
tingkat (kelas).
Tyler
mengajukan tiga prinsip untuk mengorganisasi pengalaman belajar agar efektif
yaitu kesinambungan (contiuty),
urutan isi (sequence), integrasi (integraton).
Kesinambungan
berarti adanya pengulangan yang terus menerus jenis pengalaman belajar untuk
membentuk kemampuan yang ingin dibentuk pada siswa. Kesinambungan merupakan
faktor penting dalam organisasi secara vertikal.
Urutan
isi, diorganisasi sehingga adanya penambahan kedalam dan keluasan bahan dengan
disesuaikan dengan tingkat kemampuan/perkembangan siswa. Juga adanya urutan
dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang sederhana menuju yang kompleks.
Integrasi,
yaitu pokok bahasan dalam satu mata pelajaran satu dikaitkan dengan mata
pelajaran lainnya sehingga adanya pemahaman yang terintegrasi (holistik).
Misalnya dalam pengalaman belajar dalam bidang meatematika bias dikaitkan dan
membantu mata pelajaran ekonomi.
d) Menentukan Evaluasi
Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana
tingat pencapaian tujuan. Adapun kriteria ketercapaian tujuan ini dengan
melihat apakah telah terjadi perubahan tingkah laku pada siswa sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai. Penilaian sebaiknya dilakukan menggunakan lebih dari
satu cara. Dalam hal ini menganjurkan agar dilakukan melalui pre tes dan pos
tes
Fungsi
dari penilaian dimaksudkan untuk melihat tingkat ketercapaian siswa dalam
menguasai pelajaran/perubahan tingkah laku (fungsi sumatif), dan untuk melihat
sejauhmana efektivitas proses pendidikan untuk mencapai tujuan (fungsi
formatif)
Sedangkan
menurut Effendi (2009: 64) tahapan-tahapan pengembangan kurikulum model Tyler
adalah sebagai berikut:
a.
Menentukan tujuan
pendidikan. Dalam menentukan tujuan pendidikan melalui langkah-langkah sebagai
berikut:
1)
Mempelajari siswa (the learners) sebagai sumber tujuan. Hal—hal
yang perlu dikaji berkaitan dengan siswa adalah minat, kesiapan, dan
kebutuhan mereka
2)
Mempelajari kehidupan
kontemporer di luar sekolah (masyarakat)
3)
Penentuan tujuan
berdasarkan tinjuan filosofis, hal ini dilakukan dengan maksud untuk menentukan
“the nature of good life and good society”
4)
Penentuan tujuan
berdasarkan tinjauan psikologis
b.
Menentukan pengalaman
belajar. Ada prinsip dalam penentuan pengalaman
belajar, yaitu:
1)
Memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berbuat(mempraktekkan) tingkah laku yang menjadi tujuan
2)
Pengalaman belajar
harus menyenangkan siswa
3)
Siswa harus terlibat
dalam
4)
Diberikan beberapa
pengalaman belajar, sehingga siswa dapat belajar sesuai dengan berbagai cara,
atau dapat belajar sesuai dengan gaya belajar masing-masing
5)
Pengalaman belajar yang
disediakan dapat menghasilkan beberapa kemampuan, yaitu keterampilan berfikir,
memperoleh informasi, mengembangkan sikap social, mengembangkan minat
c.
Pengorganisasian
pengalaman belajar. Untuk itu ada tiga kriteria dalam pengorganisasian
pengalaman belajar, yaitu continuity,
sequence dan integration
d.
Evaluasi dimaksudkan
untuk mengetahui hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, dan
mengetahui kelemahan-kekuatan program kurikulum
Rujukan:
Effendi,
M. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran:
Pengantar kearah pemahaman KBK, KTSP, dan SBI. Malang: FIP UM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar